Gaya Hidup Konsumtif Masyarakat Indonesia Yang Nyata

Peristiwa gizi buruk serta wabah campak sempat melanda masyarakat Indonesia. Peristiwa itu terjadi yang diakibatkan dari bencana kelaparan serta akses kesehatan yang terbatas. Di bulan Februari lalu misalnya, sebuah laporan dari BBC mengungkapkan bahwa menjangkitnya penyakit campak di Papua telah merenggut nyawa hampir 100 orang. Dari jumlah korban itu sebagian besar adalah anak-anak. Tentu saja ini sangat ironis sekali, di mana negara Indonesia merupakan sebuah negara yang begitu berlimpah sumber daya alamnya masih saja ditemukan bencana rawan pangan. Hal ini tentu saja menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah berikut masyarakatnya untuk mencari cara memerangi peristiwa tersebut supaya tidak akan terjadi lagi.

Pembangunan Masyarakat Berkualitas untuk Menghindari Berbagai Masalah yang Terjadi

Melihat peristiwa yang disampaikan di awal ulasan ini, bisa disimpulkan bahwa masih banyak kendala dan masalah yang harus dihadapi masyarakat Indonesia. Hal ini ironis sekali. Pemerintah yang saat ini sedang menggalakkan berbagai pembangunan namun di sisi lainnya masih saja ada berbagai masalah sosial yang belum tuntas untuk diselesaikan. Hal ini dikarenakan karena rendahnya penyaluran serta pemerataan hak-hak warga negara Indonesia yang sudah sejak dahulu terjadi. Hal ini dibuktikan dengan kesenjangan dalam bidang ekonomi di Indonesia. Kesenjangan itu disebut bahwa adanya resiko tingkat pertumbuhan ekonomi ternyata tidak mampu untuk menghadapi kesenjangan yang kian lebar itu. Sehingga bila didiamkan akan mengancam stabilitas nasional. Dan yang terjadi bila terus menerus dibiarkan akan muncul revolusi.

Selain itu, bila dilihat dari pola hidup masyarakat maka akan terlihat makin kompleks dan juga dinamis. Dengan demikian, yang terjadi adalah kegiatan ekonomi menjadi sebuah simbol akan adanya diferensiasi sosial. Hal itu bisa terjadi karena pengaruh globalisasi yang nantinya akan mengarahkan kebutuhan masyarakatnya terus meningkat sehingga pola hidupnya makin materialistis. Dengan begitu maka akibat yang nyata terjadi adalah makin curamnya jurang kesenjangan yang terjadi antara si kaya dan si miskin. Maka dari itulah diperlukan pembangunan karakter dari masyarakat untuk mencapai hasil yang berkualitas.

Survei Akurat Untuk Mengkategori Kelas Dari Masyarakat

Tentu saja untuk meyakinkan pernyataan-pernyataan di atas diperlukan data yang akurat. Seperti data yang didapatkan dari sebuah lembaga survei pada tahun 2012 yang dilakukan di 6 kota besar Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Medan, dan Makasar. Dari hasil survei itu, diketahui jumlah masyarakat kelas menengah sebesar 50,3% dan masyarakat kelas menengah ke atas berjumlah 3,6 %. Dan sisanya sebesar 1% merupakan masyarakat kelas atas dan masyarakat kelas bawah sebesar 39,6%. Kemudian untuk kelas yang paling bawah dan diistilahkan sebagai pra sejahtera sebesar 5,6%.

Di dalam survei di atas, terjadi peningkatan untuk masyarakat kelas menengah. Hal ini dikarenakan gaya hidup konsumtif yang pada akhirnya terjadi konsumsi yang meningkat. Hal itu bisa dilihat dari frekuensi pembelian kendaraan bermotor dan makin laris berbagai produk elektronik. Hal tersebut terjadi karena adanya pola gaya hidup konsumtif sehingga membuat konsumsi masyarakat yang kian meningkat. Adanya perubahan itu terjadi karena timbulnya dorongan berbagai kebutuhan yang dimiliki dalam diri manusia. Kemudian di sisi lain muncul sebuah paham yang berkembang di Indonesia akhir-akhir ini yakni konsumerisme.

Maka dari itu, budaya konsumerisme yang timbul di masyakat bisa memberikan gangguan. Sehingga yang terjadi adalah pola hidup yang tak sehat yang tentunya harus kita hindari.

Gaya Hidup Konsumtif Masyarakat Indonesia Yang Nyata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *